الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء و المرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين

أهلا وسهلا بكم

إذا كانت هذه زيارتك الأولى للمنتدى، فيرجى التفضل بزيارة صفحة التعليمات كما يشرفنا أن تقوم بالتسجيل ، إذا رغبت بالمشاركة في المنتدى، أما إذا رغبت بقراءة المواضيع والإطلاع فتفضل بزيارة القسم الذي ترغب أدناه.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه - قال: سمعت رسول الله يقول: "إن إبليس قال لربه: بعزتك وجلالك لا أبرح أغوي بني آدم مادامت الأرواح فيهم - فقال الله: فبعزتي وجلالي لا أبرح أغفر لهم ما استغفروني"



اللّهم طهّر لساني من الكذب ، وقلبي من النفاق ، وعملي من الرياء ، وبصري من الخيانة ,, فإنّك تعلم خائنة الأعين ,, وما تخفي الصدور

اللهم استَخدِمني ولاَ تستَبدِلني، وانفَع بيِ، واجعَل عَملي خَالصاً لِوجهك الكَريم ... يا الله


اللهــم اجعل عملي على تمبـلر صالحاً,, واجعله لوجهك خالصاً,, ولا تجعل لأحد فيه شيئاً ,, وتقبل مني واجعله نورا لي في قبري,, وحسن خاتمة لي عند مماتي ,, ونجاةً من النار ومغفرةً من كل ذنب

يارب يارب يارب

    KEMASKINI

    _

    _
    ALLAHUMMA YA ALLAH BERIKANLAH KEJAYAAN DUNIA AKHIRAT PADAKU , AHLI KELUARGAKU DAN SEMUA YANG MEMBACA KARYA-KARYA YANG KUTULIS KERANA-MU AAMIIN YA RABBAL A'LAMIIN “Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”

    RENUNGAN

    Imam Ibnul 'Arabi berkata: "Keadilan antara seorang hamba dan Robbnya adalah mendahulukan hak Allah atas bahagian dirinya, mendahulukan keredhaan-Nya atas hawa nafsunya, menjauhi larangan-larangan Nya, dan melaksanakan perintah-perintah Nya. Adapun keadilan antara seorang hamba dengan dirinya adalah mencegah dirinya dari perkara-perkara  yang mencelakakannya, sebagaimana firman Allah ' عزّوجلّ:

    وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

    'Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya' (A-Nazi'at [: 40)
    Syeikh Al-'Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-'Abbad  berkata: "Sungguh telah datang syari'at Islam menjelaskan hak setiap pemilik hal di dalam kehidupan dan selepas kematian, dan
    memerintahkan agar hak-hak tersebut ditunaikan dengan sempurna. Sungguh syari'at Islam telah datang menjelaskan hak-hak suami dan isteri atas pasangannya, hak-hak orang tua atas anak-anaknya, hak-hak anak-anak atas orang tua mereka, hak-hak kerabat atas kerabatnya, hak-hak tetangga atas tetangganya, hak-hak teman atas temannya, hak-hak sahabat atas sahabatnya, hak-hak orang-orang fakir atas orang-orang kaya, hak-hak kaum muslimin atas kaum muslimin secara umum, dan di antara ayat-ayat yang mulia yang meliputi atas perintah terhadap kaum muslimin agar menunaikan hak-hak kepada para pemiliknya adalah ayat Huququl Asyroh (sepuluh hak):

    وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً

    Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibubapa, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (An-Nisa' : 36)."
    (al-'Adlu fi Syari'atil Islam wa Laisa fi Demokratiah al-Maz'umah)
    Maka di dalam ayat di atas Allah telah mewajibkan ditunaikannya hak-hak semuanya, seperti: Hak Allah عزّوجلّ, dengan cara beribadah hanya kepada-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya; hak Rasul-Nya صلي الله عليه وسلم, dengan cara mentaati, mengikuti, dan mencintai beliau صلي الله عليه وسلم; hak kedua orang tua, dengan cara berbakti dan berbuat baik kepada mereka; hak kerabat, dengan cara menyambung dan menjaga silaturrahmi serta berbuat baik kepada mereka; hak anak-anak yatim, dengan cara berbuat baik kepada mereka, mendidik mereka di atas kebaikan, dan menjaga harta benda mereka; hak orang-orang miskin, dengan cara memberikan zakat harta kepada mereka untuk membantunya; hak tetangga, dengan cara berbuat baik dan tidak menyakitinya; hak teman dan kawan dalam perjalanan; hak ibnu sabil, iaitu orang-orang yang sedang melakukan perjalanan jauh dan tidak dapat meneruskan perjalanan kerana tidak memiliki bekal cukup untuk sampai ke tempat tujuan; hak budak, dengan cara berinfaq kepada mereka dan tidak membebani dia dengan pekerjaan-pekerjaan yang memberatkan.


    The Prophets Advice to Muaadth ibn Jabal

    An explanation of the hadeeth of Mu’aadh Ibn Jabal by Imaam Muhammad Ibn Saalih al-’Uthaymeen, showing what benefits can be taken from it.

    For example that you establish the greatest obligation that Allaah has imposed upon you after the
    testimony of faith – the prayer, and you establish it completely - fulfilling all of its conditions and pillars and obligations, fulfilling all of these perfectly.

    Mu’aadh bin Jabal reported from the Messenger of Allaah (sallallaahu ’alayhi wa sallam) that he said,

    "Fear Allaah wheresoever you may be, and follow up and evil deed with a good one, it will efface it (the evil deed). And deal with mankind with good manners." Reported by at-Tirmidhee and he said that it was a Hasan hadeeth.
    Reported by at-Tirmidhee and he said that it was a Hasan hadeeth.
    [al-Haakim reports it in al-Mustadrak and states that it meets the conditions of Bukhaaree and Muslim. Adh-Dhahabee agreed.]

    This hadeeth is one of the Forty Ahaadeeth of the author, may Allaah have mercy upon him, and in it is that the Prophet (sallallaahu ’alayhi wa sallam) gave three great and important pieces of advice:

    THE FIRST: He said, "have taqwaa of Allaah wheresoever you may be." Taqwaa means to stay away from the forbidden matters and to enact the obligatory matters – this is taqwaa! That you enact what Allaah has commanded you, sincerely for Allaah and in compliance to the Messenger of Allaah (sallallaahu ’alayhi wa sallam), and that you leave what Allaah has forbidden due to His prohibiting it and to steer clear of it.

    For example that you establish the greatest obligation that Allaah has imposed upon you after the testimony of faith – the prayer, and you establish it completely - fulfilling all of its conditions and pillars and obligations, fulfilling all of these perfectly. So whosoever leaves off any of these conditions, pillars or obligations then he has not feared Allaah (to the best of his ability), rather he has been deficient in this to the extent of what he left out.

    In Zakaah, the Taqwaa of Allaah lies in your calculating all of your property on which the zakaah is due, and your giving the zakaah as a means of purifying yourself without any miserliness or tightfistedness, or delay. And whosoever does not do this than he has not feared Allaah.

    In fasting, the Taqwaa of Allaah lies in your establishing the fast as you have been commanded, distancing yourself from idle speech, obscene words and mannerisms, boisterous behaviour, backbiting and spreading tales and other such things that would make the fast deficient and remove the spirit of fasting. The true meaning of fasting is to fast from that which Allaah, Azza wa Jall, has made forbidden.

    The same applies to all of the obligations that are used to establish obedience to Allaah, and compliance to His command, sincerely for Him and in following His Messenger. Likewise all the forbidden actions are to be left in compliance to His prohibition.

    THE SECOND: "and follow up and evil deed with a good one, it will efface it (the evil deed)." Meaning that when you perform an evil action then follow it up with a good action for the good action effaces the evil. And from the good actions to be performed after the evil is that you repent to Allaah for this evil action, for indeed repentance is from the most noble and excellent of the good actions as Allaah has said, "indeed Allaah Loves those who repent and those who purify themselves." (2:222) And He said, "and repent to Allaah all of you, O believers so that you may be successful." (24:31)

    Similarly righteous actions expiate the evil actions as the Prophet (sallallaahu ’alayhi wa sallam) said, "the five daily prayers and one Jumu’ah to the next Jumu’ah, and one Ramadaan to the next Ramadaan, is an expiation for what lies between them as long as one refrains from the major sins." [Muslim], and he said, "one Umrah to the next is an expiation for what is between them." [Bukhaaree].

    Therefore the good actions efface the evil.

    THE THIRD: "and deal with mankind with good manners." The first two pieces of advice were those related to relationship with the Creator, this third relates to relationship of the creation to the creation. This being to deal with mankind with the best manners such that you will be praised and not blamed. This by having a cheerful complexion, being truthful in speech, speaking to others nicely and other such good manners.

    There are a large number of texts concerning the excellence of having good manners to the extent that the Messenger (sallallaahu ’alayhi wa sallam) said, "the most complete believer with respect to faith is the one with the best manners." And he informed us that the most deserving of mankind to him (sallallaahu ’alayhi wa sallam) and the closest to him in ranking on the Day of Judgement would be those with the best manners.

    So noble manners, along with their being a way to beautify gatherings and the person who possesses them being beloved to the people, contain a huge reward which will bestowed upon the person on the Day of Judgement.


    So preserve these three pieces of advice from the Prophet (sallallaahu ’alayhi wa sallam) and Allaah is the Grantor of Success.

    منـزلة الصلاة في الإسلام

    بسم الله الرحمن الرحيم

    منـزلة الصلاة في الإسلام وعظم شأنها

    الخطبـة الأولـى

    إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله، من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مصل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه، وعلى آله، وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

    فيا أيها المسلمون اتقوا الله تعالى حق التقوى واستمسكوا بالعروة الوثقى، واعلموا رحمكم الله أن الله تعالى افترض عليكم خمس صلوات في اليوم والليلة، فمن حافظ عليها ولم يضيع منها شيئاً استخفافاً بحقهن كان له عند الله عهداً أن يدخله الجنة([1]) والصلوات الخمس: هي أعظم أركان الإسلام بعد الشهادتين، وهي عماد الدين الذي لا يقوم الدين إلا به، فإذا سقط العمود سقط ما بني عليه، وأول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح سائرُ عمله، وأفلح وأنجح، وإن فسدت فسد سائرُ عمله وخاب وخسر([2]) والصلاة آخر ما يفقد من دين العبد فإذا ذهب آخر الدين لم يبق منه شيء([3])، وهي آخر وصية أوصى بها النبي r أمته، فعن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت: كان من آخر وصية رسول r : ”الصلاةَ الصلاةَ وما ملكت أيمانكم“ حتى جعل نبي الله r يجلجلها في صدره وما يفيض بها لسانه"([4]) ومدح الله تعالى القائمين بها ومن أمر بها أهله، فقال تعالى: { وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيًّا، وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا } وذم الله تعالى المضيعين لها والمتكاسلين عنها فقال بعد أن ذكر جملة من الأنبياء { فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } وقال تعالى: { إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً } وعظَّم الله تعالى شأنها ففرضها بدون واسطة ليلة الإسراء فوق سبع سماوات، فرضها خمسين صلاة في اليوم والليلة، وهذا يدل على محبة الله تعالى لها، ثم خفف عزَّ وجلَّ عن عباده ففرضها خمس صلوات في اليوم والليلة، فهي خمسون في الميزان وخمس في العمل لمن قام بها ابتغاء مرضات الله تعالى. وافتتح الله أعمال المفلحين بالصلاة واختتمها بها وهذا يؤكد أهميتها قال تعالى: {قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ، إِلاّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ، فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ}؛ ولعظم منـزلتها أمر الله النبي r وأتباعه أن يأمروا بها أهليهم { وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لاَ نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى } وقال النبي r : ”مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين وفرِّقوا بينهم في المضاجع“([5]).
    وأمر النبي r النائم والناسي بقضاء الصلاة، وهذا يؤكد أهميتها وأنها لا تسقط على أي حال من الأحوال فقال: ”من نسي صلاة أو نام عنها فكفارتها أن يصلها إذا ذكرها [لا كفارة لها إلا ذلك]“ [متفق عليه]([6])، ولعظم شأنها وعلوِّ مكانتها عند الله تعالى لم يعذر المريض بتركها وأمر بأن يصلي على حسب حاله، فيصلي قائماً، فإن لم يستطع صلى قاعداً، فإن لم يستطع صلى على جنبه، فإن لم يستطع صلى مستلقياً على ظهره، فإن لم يستطع صلى على حسب حاله على أي حال لا يكلف الله نفساً إلا وسعها { فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } فإن عجز المريض عن جميع الأحوال السابقة صلى بقلبه، فيكبر، ويقرأ، وينوي الركوع، والسجود والقيام والقعود بقلبه؛ لأن الصلاة لا تسقط عنه مادام عقله ثابتاً بأي حال من الأحوال، سواء استطاع استقبال القبلة أو لم يستطع، استطاع الطهارة أم لم يستطع، لا يكلف الله نفساً إلا وسعها.
    ولعظم منـزلتها، فإن من تركها عمداً بدون عذر جاحداً لوجوبها يكون كافراً مرتداً بإجماع العلماء يقتله ولي أمر المسلمين بعد الاستتابة فإن لم يتب يقتل حدّاً، ومن تركها عمداً بدون عذر مع الإقرار بوجوبها فإنه يكون كافراً أيضاً عند المحققين من أهل العلم؛ لقول النبي r : ”بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة“ [رواه مسلم]([7]) وقال: ”العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر“ [رواه الترمذي والنسائي]([8]) وعن عبد الله بن شقيق t قال: ”كان أصحاب محمد r لا يرون شيئاً من الأعمال تركه كفر غير الصلاة“ [رواه الترمذي]([9]).
    قال الإمام ابن القيم رحمه الله: "وقد حكى إجماع الصحابة على كفر تارك الصلاة غير واحد من أهل العلم"([10]) وذكر شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله أن تارك الصلاة يكفرُ الكفرَ الأكبر لعشرة وجوه ذكرها([11]). وذكر تلميذه ابن القيم رحمه الله اثنين وعشرين دليلاً على كفر تارك الصلاة الكفر الأكبر، وقال: "وقد دلّ الكتاب والسنة وإجماع الصحابة على كفر تارك الصلاة"([12]).
    ولعظم شأنها سماها الله تعالى إيماناً، وخصها بالذكر تمييزاً لها من بين شرائع الإسلام فقال تعالى: {اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ}، {وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ} وقرنت في القرآن الكريم بكثير من العبادات، وأوجبها الله على كل حال ولم يعذر بها: مريضاً، ولا خائفاً، ولا مسافراً، ولا غير ذلك مادام العقل ثابتاً. واشترط لها أكمل الأحوال: من الطهارة، والزينة، واللباس، واستقبال القبلة، مما لم يشترط في غيرها، واستعمل فيها جميع الأعضاء: من القلب واللسان، والجوارح، والصلاة: تنهى عن الفحشاء والمنكر، وأفضل الأعمال بعد الشهادتين، وتغسل الخطايا غسلاً، وتكفر السيئات، وهي نور لصاحبها في الدنيا والآخرة، وترفع بها الدرجات، وتحط بها الخطايا، وهي من أعظم أسباب دخول الجنة برفقة النبي r ، وتعد الضيافة في الجنة لكل من غدا إليها أو راح، وتكفر ما قبلها من الذنوب، وتصلي الملائكة على صاحبها مادام في مصلاه أو ينتظر الصلاة، وانتظارها رباط في سبيل الله، وغير ذلك من الفضائل التي لا تحصر.
    أعوذ بالله من الشيطان الرجيم {حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلَّهِ قَانِتِينَ} بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين. فاستغفروه من كل ذنب إنه هو الغفور الرحيم.

     

    الخطبـة الثانيـة

    الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد: فإن أحسن الحديث كلام الله، وخير الهدي هدي رسول الله r ، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.
    عباد الله إن من الواجبات العظيمة على جميع المسلمين أن يحافظوا على الصلوات الخمس، ويأمروا بها أولادهم، وذويهم، ويلزموهم بذلك، وأن يحافظوا على هذه الصلوات مع جماعة المسلمين، فقد أوجبها الله تعالى على الرجال جماعة ويركعوا مع الراكعين، ولم يعذر المجاهدين في سبيل الله تعالى بترك الصلاة جماعة، وقد هَمَّ النبي r بإحراق المتخلفين عن الصلاة جماعة بالنار، ولم يرخص للأعمى الذي يسمع النداء بالصلاة بل أمره بالإجابة، وبيّن أن ترك صلاة الجماعة من علامات المنافقين، وأن من سمع النداء ثم لم يجب فلا صلاة له إلا من عذر، فاتقوا الله عباد الله وأطيعوه بالمحافظة على هذا الركن العظيم والأصل الأصيل من أركان الإسلام.
    واللهَ أسألُ أن يجعلني وإياكم ممن يستمعون القول فيتبعون أحسنه، اللهم صلّ وسلم وبارك على نبينا محمد بن عبد الله عليه الصلاة والسلام، وارضَ اللهم عن أصحابه أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر أصحاب نبيك أجمعين، اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، وانصر عبادك المؤمنين، اللهم آمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، واغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات واغفر لأمواتنا وأموات المسلمين برحمتك يا أرحم الراحمين. { رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ }، عباد الله { إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ }، فاذكروا الله يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون.


    ([1])  أبو داود، 1420، وصححه الألباني.
    ([2])  الترمذي 2616، وحسنه الألباني.
    ([3])  أحمد، 5/251، وصححه الألباني.
    ([4])  أحمد 6/290، وصححه الألباني.
    ([5])  أبو داود، برقم 495، وصححه الألباني.
    ([6])  متفق عليه: البخاري برقم 597، ومسلم 684 .
    ([7])  مسلم برقم 76 .
    ([8])  الترمذي برقم 2621، والنسائي، برقم 1079، وصححه الألباني.
    ([9])  الترمذي برقم 2622 .
    ([10])  كتاب الصلاة لابن القيم ص26 .
    ([11])  شرح العمدة لشيخ الإسلام، 2/81 .
    ([12])  كتاب الصلاة لابن القيم ص17 .
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    SOLIDARITI MENERUSKAN PERJUANGAN

    INI ZAMANNYA